kuliner / makanan

Mie Jogja, Tempat Makan Penuh Kenangan

Bila banyak orang menjadikan sebuah tempat makan untuk mengikrarkan kasih bersama pasangannya. Lain halnya dengan pengalaman saya. Berawal di Minggu pagi yang kelabu. awan mendung menggelayuti langit Kota Malang. Rupanya langit membaca hati saya, pikirku saat itu. Setelah malam bertengkar hebat lewat telepon dengan pacar saya. Kami memutuskan untuk membicarakan masalah tersebut keesokan paginya.
Kami kemudian pergi bersama dan mencari tempat untuk mengobrol. Pilihan saya jatuh pada Mie Jogja yang berada di jalan Arjuno. Dari namanya sudah dapat ditebak bahwa yang menjadi andalan di tempat ini adalah mie. Namun, hari itu saya memutuskan untuk memilih menu lain. Makan mie di pagi hari kurang tepat menurut saya saat itu. Akhirnya saya memesan lontong sayur, sama dengan pilihan pacar.
Sambil menunggu pesanan datang, saya mencoba menikmati suasana yang ada. Tempat makan yang tertata rapid an terbuka membuat pengunjung merasa leluasa. Dapur yang dapat dilihat dari bangku pembeli terlihat rapid an bersih. Di minggu kelabu ini tidak banyak pengunjung yang datang. Sehingga kami berdua pun lebih nyaman untuk membahas masalah yang ada.
Beberapa bsaat lontong sayur kami pun telah datang. Lontong sayur tersebut terlihat sangat lezat. Berisi lontong, sayur lodeh, sambal goreng, serta potongan ayam yang cukup besar. Rasa khas yang mendominasi masakan adalah rasa manis serta beraroma cengkeh. Sambil menyantap makanan pun kami memulai pembicaraan.
Hubungan kasih memang tidak selamanya bisa berakhir bahagia. Seperti kata pepatah “ada pertemuan, ada perpisahan”. Pertengkaran semalam menyadarkan kami berdua bahwa kami tidak bisa bersama. Akhirnya kami pun memutuskan untuk berpisah.
Lezatnya lontong sayur rupanya tidak bisa mengalihkan rasa sakit patah hati. Sehingga makanan yang lezat itu pun sayangnya tak bisa saya habiskan. Namun, lain halnya dengan mantan kekasih saya tersebut. Putus cinta nampaknya tak menyurutkannya untuk tetap menikmati pesanannya. Hingga ia pun menyantap habis lontong sayur beserta potongan ayam yang besar. Mungkin ia benar-benar lapar atau memang masakannya yang terlewat lezat, pikir saya saat itu.
Sudah dua tahun berlalu, tapi kenangan pahit itu pun tetap ada hingga saat ini. Setiap saya ke Mie Jogja pasti akan teringat sebagai tempat putus cinta dengan kekasih pertama saya. Walaupun begitu tak menyebabkan saya membenci tempat tersebut. Bahkan, terkadang seperti menjadi tempat special karena pernah menjadi saksi sejarah hidupku. (poet-401)

Mie yang bercita rasa khas jawa

Mie yang bercita rasa khas jawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s