investigasi / lifestyle

Kisah Pilu Aborsi: Part Bunga

Pepatah yang mengatakan “Cinta itu Buta” rupanya tepat untuk menggambarkan kisah Bunga (bukan nama sebenarnya). Dengan atas dasar cinta dan percaya ia dibutakan oleh pasangannya. Sama seperti kisah Mawar dan Melati, gadis berkulit kuning ini mau melakukan tindakan aborsi.

Dalam jangka waktu tiga bulan, Bunga yang baru saja berpacaran mau diajak untuk melakukan hubungan intim oleh pacarnya. Seks bebas sudah menjadi makanan sehari-hari mereka. Hingga pada suatu ketika Bunga mendapati dirinya hamil.

“Saya shock dan bingung tidak karuan ketika tahu saya hamil”, tutur gadis berambut pendek ini. Apalagi ia sudah kehilangan kedua orang tuanya sehingga menanggung permasalahannya sendiri. Di lain pihak ia diancam oleh kekasihnya. “Ia bilang mau bunuh diri bila saya tidak mau aborsi”, kata Bunga. Tekanan dari pacarnya tersebut membuat gadis berparas cantik ini mau untuk melakukan aborsi.

Berbeda dengan dua wanita sebelumnya, Bunga tidak langsung mengkonsumsi obat untuk aborsi. Ia minum jamu tradisional terlebih dahulu yang diperoleh dari dukun jamu. Dukun jamu tersebut ia ketahui dari kenalannya. “Rasanya tidak enak. Gabungan nanas muda, bandrek (air fermentasi tape), dan rempah-rempah”, ujarnya. Ia juga bercerita efek yang ditimbulkan dari jamu tersebut membuat perutnya mulas saja.

Tidak cukup ampuh menggunakan jamu mereka memutuskan untuk menggunakan obat Cytotex dan Gastrul. Kedua merek obat ini memang biasanya digunakan dengan tujuan aborsi. Bunga menjelaskan alasan mengapa ia meminum kedua jenis obat ini. Ketika menggunakan Cytotex ia salah cara penggunaan sehingga ia membeli lagi obat tapi dengan merek yang berbeda, yakni Gastrul. Ketika menggunakan obat tersebut akhirnya tindakan aborsinya berhasil.

Dewi keberuntungan rupanya tak berpihak pada Bunga, setelah ia menggugurkan kandungannya ia ditinggal pergi secara sepihak oleh kekasihnya. “Ia mencari wanita lain yang masih perawan dan mau berhubungan intim dengannya”, tuturnya dengan menahan tangis. Sama seperti kisah sebelumnya, Bunga juga menyesal telah “membuang” bayinya. Bahkan, kini ia sampai depresi karena telah kehilangan anaknya. Selain itu ia harus menanggung resiko terkena kanker Rahim akibat sisa tindakan aborsi yang belum bersih. (poet-401)

pergaulan bebas sumber petaka aborsi
kisah pilu aborsi part mawar
kisah pilu aborsi part melati
misoprostol pembunuh janin
obat aborsi dijual bebas apotek pun ada
aborsi bukan tindakan tak beralasan
dampak aborsi menyerang fisik dan psikis
dukungan emosional pasca aborsi

7 thoughts on “Kisah Pilu Aborsi: Part Bunga

  1. Pingback: Pergaulan Bebas, Sumber Petaka Aborsi | youngslife

  2. Pingback: Dukungan Emosional Pasca Aborsi | youngslife

  3. Pingback: Obat Aborsi Dijual Bebas, Apotek pun Ada | youngslife

  4. Pingback: Kisah Pilu Aborsi: Part Mawar | youngslife

  5. Pingback: Kisah Pilu Aborsi: Part Melati | youngslife

  6. Pingback: Aborsi, Bukan Tindakan Tak Beralasan | youngslife

  7. Pingback: Dampak Aborsi, Menyerang Fisik dan Psikis | youngslife

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s